FAQ    |    News    |    Articles    |    Log In
Home  |  About Us  |  Products  |  Contact
 
Home » News
News
Jangan Salahkan Petani

Pengusaha diminta tak menyalahkan kebiasaan petani mengolah getah karet yang membuat pabrik tidak bisa mengolah komoditas itu terbebas dari limbah asap dan bau tak sedap. Alasannya, selama ini petani tak diberikan pengetahuan tentang teknik mengolah karet yang lebih baik.

Menurut Nurjaman (43), Ketua Petani Karet Desa Air Batu, Kabupaten Banyuasin, selama lebih dari 20 tahun dia menekuni usaha perkebunan karet, satu-satunya metode pengolahan getah karet yang dikenal adalah menggunakan cairan cuka para.

”Cairan ini digunakan untuk membekukan getah menjadi gumpalan. Ya, inilah cara yang kami tahu untuk mengolahnya. Kalau ternyata ada cara lain yang lebih baik, ya tolong diberi tahu,” kata Nurjaman.

Sehari sebelumnya, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumsel Alex Eddy Kurniawan menyatakan, limbah asap tak bisa diolah sempurna karena getah karet dari petani tak diproses melalui aturan dan standardisasi yang baik. Bau tidak sedap yang menyengat juga berasal dari penguraian protein getah karet akibat tidak diolah dengan benar (Kompas 3/5).

Nurjaman mengakui, getah karet memang sering kali tercampur kotoran. Namun, hal itu tidak sengaja dilakukan karena proses mengolah getah karet selalu dilakukan di areal perkebunan karet di atas permukaan tanah. Jika getah itu harus diangkut ke tempat yang bersih atau membangun areal pengolahan dengan bahan semen, dibutuhkan biaya tak sedikit. Petani tak memiliki modal untuk melakukan pengolahan seperti itu.

”Kalau dibandingkan dengan harga jual getah yang tidak stabil selama dua tahun terakhir, penghasilan petani pasti tidak cukup untuk menutup biaya pengolahan,” kata Nurjaman.

Minim informasi

Wantjik (39), petani karet dari Kelurahan Karya Baru, Alang- alang Lebar, Kota Palembang, mengaku heran jika pengusaha menyalahkan penggunaan cuka para dalam proses membekukan getah. Sejak diwarisi kebun karet seluas 4 hektar dari almarhum ayahnya, ia hanya mengenal cuka para sebagai cairan pembeku.

Dia juga mengaku tak pernah mengenal cairan asam semut atau diofram dalam proses pembekuan getah karet. Mungkin saja cairan itu lebih baik, tetapi Wantjik mempertanyakan soal ketersediaan dan harganya di pasaran tradisional.

”Yang terpenting, kami tak pernah mendapat informasi dari pengusaha atau sosialisasi dari pemerintah tentang metode pembekuan getah yang lebih baik daripada saat ini. Yang pernah diinfokan, harga getah bisa turun kalau kotor dan kandungan air terlalu banyak,” ujarnya. Wantjik dan Nurjaman tidak segan meniru cara mengolah yang lebih baik jika getah lebih bersih dan harga jualnya naik. Pengamat perkebunan, Syamuil Chatib, menilai masalah limbah asap pabrik ini harus dibedakan dengan masalah proses pengolahan getah. Keberadaan limbah seharusnya disikapi dengan pola pikir yang baik.

”Pabrik harus berinvestasi agar bisa memiliki sistem pengolah limbah asap sesuai standar. Masalah proses pengolahan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengenalkan kepada petani tentang metode pengolahan getah yang lebih baik,” katanya.

Sumber : cetak.kompas.com

Please Join us on the Web
Get news & update
Contact Us
Jl. Semeru 124, Bambe - Driyorejo
Gresik , Jawa Timur-Indonesia
Phone: +62-31-7664205, 7664798
Fax: +62-31-7664206
Email: sales@javarino.com
Quick Links
Raw MaterialIndustryBuilding
AgricultureSport
© 2010 PT. LANGGENGKARYA MAKMUR LESTARI.
All rights reserved.